0

Abatasa Publishing

Dwiantologi Cerpen “Un Dans L’Éternité” dan “Telur Surga”

Un Dans L’Éternité,
Satu dalam Keabadian
Jaladara
dan
Telur Surga,
Wigi Azkiyanti
Abatasa Publishing
Cetakan : I, Agustus 2010
ISBN : 978-602-97574-0-8

.

.

Sewaktu saya selesai membaca kumpulan cerpen Jaladara dan Wigi Azkiyanti, saya shock. umpama saya mengusung senjata, dengan berjalan kaki, saya masih mengeluh. tapi kedua orang ini, meski harus merangkak, mereka tak menyerah. dengan harus banting tulang, jauh dari sanak keluarga, keduanya bisa bertumpu di atas kedua kaki dan memberikan hasil karya yang membanggakan, di mana tidak semua orang bisa melakukannya. Mengintip Permainan Takdir, adalah favorit saya dari semua cerpen Jaladara. saya dipaksa untuk menebak-nebak dan berspekulasi, ‘ada apa ini?’ ‘bagaimana akhirnya?’, sampai di akhir… saya mendapat jawaban yang cukup mencengangkan. love it so much… Wigi Azkiyanti menampar saya dengan Telur Surga. bagaimana tidak? di mana orang-orang banyak yang tidak melaksanakan puasa wajib, namun tokoh di cerpennya, mati-matian tetap berpuasa meski banyak tantangannya. meski penuturannya sangat sederhana, tapi makna yang diambil sangat dalam. saya salut, sungguh. Ini mungkin hanya sekedar pendapat dari seorang saya yang bukan siapa-siapa di dunia ini. dan saya yakin, orang-orang yang merasa dirinya hebat, akan berpikir sama… setelah membaca karya Jaladara dan Wigi Azkiyanti. bahwa ada orang-orang yang sepertinya tak kasat di dunia ini, tapi mereka mempunyai talenta luar biasa, lebih fascinating, splendid, great, dari mereka yang merasa dirinya ‘hebat’
–Tita rosianti – penulis Kitten Heels, Gagasmedia–

Jaladara sangat melankolis dalam bermain cinta dan tragedi; bermain kehidupan dan kematian; bermain kemanusiaan dan kealpaan; bermain bahasa ibu dan bahasa tetangga jauh. Dengan keseriusan mengikuti jalan ceritanya, di ujung jalan ada suatu kejutan yang menggetar-getirkan. Wigi Azkiyanti sangat serius menyajikan cerita sebagai syiar agama; memaknai realita aneka cerita dalam jalinan benang jilbabnya. Barangkali itulah ciri khas karyanya, dan memang layak disimak.
–Gus Noy, penikmat sastra; tinggal di Balikpapan, Kaltim–

“Menapaki perjalanan kisah-kisah dalam ‘Jaladara : Une Dans L’Eternite’ adalah perjalanan sarat mimpi jiwa2 yg dinamis. Penulis memaparkan mimpi-mimpi yang diturutkan berdasarkan pengalaman pribadinya menyinggahi kehidupan mulai dari ke-hidupan “membumi” hingga “melangit”. Ini adalah sebuah cerita yang kompleks dimana keterbatasan mampu ditepis demi cinta, harapan, kebermaknaan hidup dan pencarian jati diri, bagaimana memburaikan benang-benang kusut kehidupan, menjlentrehkan dan memintalnya menjadi jalinan cerita yang utuh dalam balutan nafas religiusitas, kasih keluarga, arti sahabat dan cinta dari orang-orang yang disayangi. Saya menyambut baik karya ini. Selamat…
–Nisa Amalia, Pegiat komunitas Sastra ESOK, Surabaya–

Lea, demikian saya memanggil Jaladara. Sebelum membaca tulisan beliau, saya memang sangat tertarik dengan personalitinya yang memiliki karakter tersendiri, yaitu seorang yang penuh semangat dan optimistis. Ternyata dugaan saya tidak meleset, setelah membaca kumcer-nya ini, apa yang ingin saya katakan adalah…. You’re awesome, girl..!! Saya bagai dipukau dengan untaian kata-kata yang menyusun alur cerita, ianya mengalir begitu baik dan tidak membosankan sama sekali. Saat tiba pada ending cerita, saya merasa sangat senang hati karena sememangnya semua cerpen dalam kumcer ini adalah sangat manis. Bacalah cerpen Kembali Padamu, Ibu, atau Bu Guru Marni, dan yang lainnya, dijamin tidak rugi menghabiskan waktu untuk menikmati cerita yang sangat original karya Jaladara. Teruskan menulis, Lea!! You’re very talented…

Bakat menulis adalah anugerah Allah SWT yang harus disyukuri dan diamalkan, yaitu dengan menyampaikan messages keislaman pada setiap karya yang dilahirkan. Hal tersebut menurut sudut pandang saya telah dipenuhi  oleh Wigi Azkiyanti pada cerpen yang ditulisnya. Genre cerpen pop islami yang dilahirkan oleh Wigi, memikat hati saya saat membacanya, bagai mendapat sebuah bonus yaitu mendapat sebuah cerita yang menarik, tapi  disisi lain juga menambah pengetahuan ke-islaman saya, dan pada akhirnya hal tersebut melahirkan sebuah keinsyafan didalam hati. Percayalah, sangat bermanfaat membaca kumpulan cerpen karya Wigi Azkiyanti.
–Dang Aji, Founder Group “Untuk Sahabat”–

“Cerita yang disuguhkan dalam kumpulan cerpen ini sangat menarik, yang merupakan ekspresi dari realitas kehidupan yang ada. Penulisanya tertata dengan baik dan begitu cermat. Beberapa cerita dari kumpulan  cerpen ini juga memunculkan unsur religi, saya berharap cerita yang disuguhkan dapat memberikan inspirasi kepada para pembaca, dan para penulis lain untuk mem-budayakan penulisan yang baik dan “Ahsan” sehingga mampu mendekatkan diri kepada Robb nya.”
–Fajar Kurniawan, Dosen Bintang Nusantara Hong Kong–

“Jaladara melukiskan mimpi-mimpi besar, dan Wigi azkiyanti membimbing kita untuk kembali beberapa kali menyimak sapuan kuasnya. Saya menemukan kolaborasi yang unik dalam buku ini.”
–Susie Utomo – Ketua Forum Lingkar Pena Hong Kong–

“Sebuah kolaborasi dari 2 penulis yang masing-masing mem-punyai style sendiri-sendiri, akan tetapi menjadi indah dalam sebuah kumcer dengan ending yang tak terduga.
–Bintang Alzeyra, penulis Verliebt in Wien–

“Aku langsung jatuh cinta pada Bu Guru Marni! Ya, di Kumcer ini perjuangan seorang guru untuk mendidiknya kental sekali, pergulatan batin sang guru terasa mengigit! Ah, begitukah cinta?”
–Naqiyyah Syam, Penulis, Ketua FLP Cabang Lampung Timur–

Banyak cerita yang dihadirkan dalam buku ini dan banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita-cerita tersebut. cerpen Kembali Padamu, Ibu memberikan pesan yang kuat kepada mereka yang telah melupakan seorang ibu, bahwa jasa ibu akan tetap dikenang sampai kapanpun. Cerpen ini bisa menyadarkan mereka yang sudah lama tidak memeluk ibu. Cerpen “Bu Guru Marni” dan “Aulia Maharani” bercerita tentang sosok TKW yang dengan penuh perjuangan akhirnya mencapai kesuksesan. Meskipun cerita TKW yang sukses sudah banyak tetapi dibanding dengan jumlah TKW yang ada persentasenya pasti masih sangat sedikit. Beberapa cerita yang lain sarat dengan pesan-pesan yang bersumber dari Al-quran. Semangat dan kegigihan keduanya boleh dijadikan contoh. Salut kepada kedua penulis. Semoga makin banyak BMI yang bisa berkarya me-ngikuti jejak kalian berdua; dan semoga bisa menghasilkan karya-karya yang lebih baik di kemudian hari.
–Imroatul Cholifah, BMI di Singapura–

“Saya ucapkan selamat dan salut Mbak Jaladara dan Mbak Wigi Azkiyanti atas terbitnya buku kumpulan 12 cerpen ini. Bukan hanya karena isinya. Tapi juga membayangkan bagaimana perjuangan dalam proses tertuangnya kata demi kata hingga tersusun sebagai cerita pendek. Tema yang beragam, diksi yang  tidak biasa menambah aroma, bahwa buku ini layak untuk dibaca. Buku ini juga membuktikan bahwa cita-cita tidak hanya untuk dimiliki tapi diwujudkan.”
–Minie, BMI di Taiwan–

1

Short Story

Cerpen : Bu Guru Marni

Cerpen : Jaladara

Marni
Kaukah perempuan  yang berdiri di ujung daun
Menunggu pagi menurunkan embun
Dan cahaya mentari pancarkan hangat uapkan tangis

Marni
Namamu  terukir di meja takdir
tarianmu yang berwujud angin
berbelok di atas persimpangan hidup
yang akan singgah di sebuah gubuk
tempat bernaungnya bocah lelaki
untuk upacara kelahirannya

Terhitung enam bulan sudah Marni mengajar di sebuah sekolah dasar di Indramayu. Meskipun setiap hari ia harus mengendarai sepeda motor menempuh jarak puluhan kilometer, ia melakukannya dengan senang hati dan bangga. Pekerjaan yang dijalaninya kini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sepuluh tahun yang lalu, selepas SMA, Marni mengikuti jejak kebanyakan perempuan di desanya: mengadu nasib di luar negeri sebagai TKW.

Ia masih ingat hari pertamanya mengajar. Ia tidak percaya tengah berdiri di depan puluhan anak ber-seragam merah putih. Anak-anak berwajah polos, tetapi penuh rasa ingin tahu. Marni langsung ditugaskan menjadi walikelas empat. Mulanya ia sempat tergagap karena perasaan bahagianya yang tak terkira, mendetakkan jantungnya lebih keras dari biasanya. Namun, ia segera menenangkan diri dan mengajar de-ngan sebaik mungkin, seperti yang biasa ia lakukan ketika ia berdiri di depan teman-teman kuliahnya sewaktu diskusi di salah satu universitas terbuka  yang ia ikuti di sela kesibukan pekerjaannya di Hongkong.

Hari pertama menginjakkan kaki di Hongkong, di kamar yang disediakan majikan, Marni tak kuasa menahan airmatanya. Ia merasa seorang diri di tengah kota asing yang tidak ia kenali. Meskipun dalam hati kecilnya ia bersyukur bisa mendapatkan majikan yang baik, ia sempat menyesali keputusannya menjadi TKW. Dulu, ia bercita-cita menjadi guru. Keadaan ekonomi orangtuanya membuatnya terpaksa mengurungkan cita-citanya itu.

Marni tak patah semangat. Sebagai anak tunggal, ia harus bisa bertahan menjalani kehidupan barunya di Hongkong, meski harus jauh dari keluarga dan sanak-saudara. Ia berkeyakinan bahwa kelak ia akan pulang ke kampung halaman dengan membawa kesuksesan. Beruntung ia mendapatkan majikan yang baik yang bersedia mengajarinya banyak hal dan memberinya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Continue Reading »

0

Short Story, Writings

Cerpen : Pelukis Senja

Cerpen : Jalaindra

Jika saja aku tak pernah tersesat ke kota itu, mungkin negeri kita tidak akan pernah memiliki senja seindah senja yang bisa kita nikmati saat ini, Allea. Kau tentunya masih ingat ketika pejabat negeri kita melakukan sayembara untuk melukis senja. Kau bersikeras menyuruhku untuk ikut serta. Padahal aku tidak ingin membagi dengan orang lain apa yang telah kubagi kepadamu tentang senja yang kulihat di kota tersembunyi itu. Aku ingin hanya engkau lah yang memilikinya. Namun, setelah kau beralasan bahwa orang-orang di negeri ini sudah bosan dengan senja kelabu dan remang yang itu-itu juga, dan mereka membutuhkan senja yang lain, maka aku menuruti keinginanmu dan mendaftarkan diri pada sayembara itu.

Meski kau telah mendengarnya berkali-kali dengan cerita ketersesatanku ke kota yang aku sebut kota senja, aku tak pernah bosan untuk menceritakannya kembali kepadamu, Allea. Aku harap kau pun tak pernah bosan. Dengan menceritakannya kembali, mungkin ada bagian-bagian yang baru saja kuingat dan terlewatkan pada cerita-cerita sebelumnya. Kau tahu, Allea, aku juga selalu merasa senang ketika melihat mimik heran dan penasaran di wajahmu ketika ceritaku sampai pada bagian bagaimana penduduk negeri senja memperlakukan senja setiap harinya. Kau tak pernah mengira kan, bahwa mereka menghentikan seluruh aktifitas mereka selama sekian menit hanya untuk menikmati semburat cahaya jingga kemerahan yang melukis belahan langit barat. Lalu mereka akan bicara tentang hal-hal buruk yang telah mereka alami sepanjang hari itu namun bukan dengan nada keluhan dan penyesalan, melainkan dengan nada harapan bahwa keesokan harinya mereka akan menjadi lebih baik.
Continue Reading »

0

Short Story, Writings

Cerpen : Lelaki Kunang-Kunang

Cerpen : Jalaindra

Aku terbangun pada suatu malam dan mendapati sekujur tubuhku telah berubah menjadi kunang-kunang. Cahaya kuning kehijauan berpendar dari sekujur tubuhku. Namun jangan kau bayangkan kalau jemariku berpendar, atau kakiku. Karena sekujur tubuhku telah berubah menjadi benar-benar kunang-kunang. Jangan juga kau bayangkan aku menjadi kunang-kunang raksasa, karena aku melihat semua benda di kamarku mendadak membesar dalam ukuran yang berpuluh kali lipat. Sekali lagi ini membuktikan bahwa tubuhku benar-benar telah berubah menjadi kunang-kunang yang kecil, sekecil kunang-kunang yang seringkali kulihat melayang-layang di kebun belakang rumah.

Aku lalu berjalan melintasi kerah baju tidurku. Rasanya sangat jauh dan melelahkan sebelum akhirnya aku sampai di pinggir tempat tidur. Aku melihat lantai kamarku dalam ketinggian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, seperti aku tengah berdiri di puncak menara dan kulihat mobil-mobil di bawahku seperti semut yang berbaris. Dan malam itu benar-benar aku melihat semut sebesar mobil. Semut itu mendongak ke arahku dan menggoyang-goyangkan antennanya seolah hendak mengejekku. Aku mundur beberapa langkah untuk berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan.

Tanpa kusadari, seekor cicak di langit-langit telah lama mengitaiku. Dengan gesit ia merayap turun ke meja di sebelah tempat tidurku, lalu melompat ke atas sprei. Tak pernah aku melihat cicak sebesar itu, seperti dinosaurus yang tengah mengejar mangsanya. Dan mangsa itu adalah aku. Aku berlari merayap dengan kaki-kaki kecilku menyusuri pinggiran sprei yang berantakan, sebelum aku sadar bahwa aku bisa menggerakkan sayapku dan terbang menyelamatkan diri.
Continue Reading »

0

Agenda

FESTIVAL SASTRA BURUH MIGRAN 2010

Assalamu’alaikum warhmatullahi wabakatuh

SAKSIKAN! Pengumuman BMI Berprestasi dan penyerahan hadiah pemenang Lomba Cerpen dan Puisi FLP-HK 2010 Siapa tahu kawanmu yang berhak membawa pulang hadiah uang sebesar HK$ 3.150 beserta pialanya.

Acara akan diramaikan dengan:

  • Parade drama, ketoprak Islami, dan puisi, yang akan dibawakan oleh CK Dancer, Wanodya, Arimbi, ATKI, FKMPU, Cakrawala, Iwamic, SUARA, Ulil Albab, Teater Angin, Sekarbumi, Teater Pelangi FLPHK,WHDI.
  • Pantun Berbalas yang akan diikuti oleh Bapak Konjen Ferry Adamhar dan pegawai tinggi BUMN yang ada di Hong Kong.
  • Pameran Perpustakaan, dan Galerry Karya Pena BMI
  • Dan satu lagi, insya Allah launching buku karya BMI

Festival akan digelar insya Allah pada :

Hari : Minggu 9 Mei 2010, pk 10:00 – 16:30
Di : Hotung Secondary School, Causeway Bay
Tiket : $ 20

Kerja sama dengan : KJRI-HK, Bank Mandiri, Bank BRI, Forum Budaya BMI, Majalah Nurmuslimah, Tabloid Apakabar, SUARA, Berita Indonesia, IMWU, CK Dancer, Majalah Memo, Peduli.

Sumber : Festival Sastra Buruh Migran 2010